Kamis, 26 Februari 2009

PEMANFAATAN MINERAL ZEOLIT UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI TANAMAN PERKEBUNAN

Suwardi

Staf Pengajar Jurusan Tanah, Fak. Pertanian, IPB

Jl. Raya Pajajaran Bogor


PENDAHULUAN

Sebagai negara agraria, Indonesia sudah sewajarnya secara konsisten mengembangkan sektor pertanian, termasuk di dalamnya agroindustri. Kegiatan sektor pertanian dimulai dari peningkatan produksi pertanian, peningkatan nilai tambah produk pertanian melalui pengolahan dan pengemasan, dan akhirnya pemasaran produk pertanian melalui mekanisme yang menguntungkan petani. Meskipun di masa lampau sektor pertanian terabaikan, sekarang kita sadar bahwa pertanian merupakan ujung tombak ekonomi Indonesia.

Upaya peningkatan produksi pertanian harus dilakukan secara simultan dengan program ekstensifikasi lahan-lahan pertanian dan program intensifikasi. Kenyataan menunjukan bahwa usaha perluasan areal pertanian di Indonesia hampir selalu berbenturan dengan rendahnya produktifitas lahan. Hal ini disebabkan sifat fisika dan sifat kimia tanah yang digunakan untuk lahan pertanian mempunyai kapasitas tukar kation (KTK), basa-basa, ketersediaan hara, kapasitas menahan air yang rendah, sedangkan kejenuhan aluminium tinggi. Malahan kecepatan program ekstensifikasi sering kalah cepat dengan penyempitan lahan pertanian. Oleh karena itu, program ekstensifikasi harus ditunjang dengan program intensifikasi untuk mempertahankan ataupun meningkatkan produktsi pertanian. Di daerah-daerah yang memiliki lahan terbatas untuk ekstensifikasi seperti halnya pulau Jawa, program intensifikasi merupakan program yang harus dikembangkan.

Intensifikasi lahan pertanian pada beberapa sentra produksi di Indonesia telah mengakibatkan terjadinya degradasi lahan baik terhadap sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Kemasaman tanah cenderung naik, aerasi dan drainase memburuk, kelarutan besi dan aluminium meningkat, fiksasi fosfat meningkat serta meningkatnya laju pencucian sehingga mengakibatkan rendahnya respon tanaman terhadap masukan faktor-faktor produksi. Oleh karena itu, perlu dilakukan usaha-usaha perbaikan lahan agar produktifitas tanah meningkat. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus selama puluhan tahun telah mengakibatkan menurunnya daya dukung tanah sehingga tanah tersebut cenderung semakin kritis, yang ditandai dengan pemadatan tanah, pH tanah dan basa-basa menurun. Untuk mengantisipasi keadaan tersebut perlu dilakukan perbaikan, terutama terhadap kemampuan tanah dalam menyediakan unsur hara. Program intensifikasi dapat ditempuh antara lain dengan usaha menciptakan kondisi tanah agar lebih sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Berbagai cara telah ditempuh antara lain dengan penambahan bahan ameliorasi seperti kompos, kapur, dan lain-lain ke dalam tanah. Pemupukan merupakan alternatif yang umum dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman. Namun demikian efisiensi penggunaan pupuk masih sangat rendah khususnya nitrogen karena mudah hilang melalui pencucian dalam bentuk nitrat, menguap ke udara dalam bentuk gas amoniak, dan berubah ke bentuk lain yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman (Vlek dan Byrnes,1986).

Penggunaan mineral zeolit merupakan bahan alternatif baru untuk meningkatkan efisiensi pemupukan nitrogen. Di luar negeri, pemanfaatan zeolit di bidang pertanian telah banyak dilakukan terutama di Jepang dan Amerika Serikat. Lebih dari 150 ribu ton zeolit setiap tahun diproduksi di Jepang (Minato, 1994). Sebagian besar digunakan di bidang pertanian seperti padang golf, padi sawah, media tumbuh tanaman, dan penyerap bau pada proses pengomposan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar